Sabtu, 05 Februari 2011

Monumen Kwayuhan

Deskripsi : tugu berbentuk tembok dengan relief kegiatan selama pendidikan di sekolah polisi.
Sejarah :

Merupakan sekolah Polisi yang pertama yang berdiri pada masa pendudukan Belanda. Pada awalnya sekolah ini menempati rumah-rumah penduduk, didirikah oleh Bapak R. Moh. Zein Suryopranoto di dusun Kwayuhan, Sendangmulyo, Minggir.
Pada perkembangan selanjutnya, ketika rumah-rumah penduduk tersebut dikembalikan kepada penduduk, untuk selanjutnya dibuatkan bangunan yang berbentuk aula untuk mengenang adanya sekolah polisi tersebut, yang sekarang dipergunakan sebagai balai desa di desa Sendangagung, Minggir.
Sementara itu pertempuran antara tentara Belanda dan laskar rakyat terjadi di dusun Nanggulan.

Alamat : dusun Kwayuhan, Sendangagung, Minggir

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Palbapang


Deskripsi : berbentuk tugu dengan simbol topi baja, bambu runcing sebagai simbol laskar rakyat yang telah gugur. Didirikan di atas pondasi/ batur persegi empat. Tertulis nama korban pertempuran.
Sejarah :
Pada waktu Class II tahun 1949, tentara Belanda menduduki kota Yogyakarta, sehingga pasukan–pasukan tentara RI menyingkir keluar kota. Satu batalyon tentara yang menyingkir/ lari dari kota Yogyakarta bermarkas di dukuh Tempel, Desa Lumbungrejo tepatnya di Balai desa Lumbungrejo. Baru sekitar tiga hari di desa Lumbungrejo mereka mengirimkan dua tentara penghubung ke kota untuk mencari informasi situasi. Tetapi dua tentara penghubung tertangkap Belanda di daerah Palbapang, keduanya dibunuh dengan dipenggal kepalanya oleh Belanda. Sehingga pejuang yang bermarkas di desa Lumbungrejo kehilangan kontak/informasi tentang keberadaan tentara Belanda. Kemudian desa Lumbungrejo diserbu tentara Belanda dari arah kota secara mendadak dan terjadi kekacauan karena kehilangan penghubung, pasukan pejuang kita bergerak mundur ke arah Selatan (arah Godean) tetapi ada 8 orang yang tertinggal di utara jalan raya di perempatan Palbapang dan bersembunyi di parit bawah jalan raya. Pada saat itu ada kuda yang terjebak didepan konvoi tentara Belanda. Karena menghalangi jalannya konvoi maka kuda ditembak oleh Belanda dan bangkainya diseret ke pinggir/parit, sehingga pejuang yang sedang bersembunyi di selokan/parit bawah jalan ketahuan Belanda dan gugur ditembak. Penduduk sekitar tidak berani merawat mayat karena Belanda bermarkas di sebelah timur jembatan Krasak. Kurang lebih selama 3 bulan mayat pejuang yang tidak dirawat tersebut hilang terbawa air parit/selokan (air hujan). Identitas ke delapan pejuang yang gugur tidak diketahui pasti, sehingga pada saat pendirian monumen nama yang tercantum dalam monumen bukan nama yang sebenarnya gugur di Palbapang.
Nama-nama yang gugur yang tertera di monumen :
1. Komari
2. Radimin
3. Abu Darto
4. Kasimin
5. Dulhadi

Alamat : Dusun Palbapang Tempel, Lumbungrejo, Tempel, Sleman

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Perjuangan Mlati

Deskripsi : berbentuk tugu segiempat. Berdiri di atas batur setinggi 1 meter. Dasar tugu beralas tingkat tiga. Bagian depan terdapat relief bergambar obor yang menyala, topi baja, bambu runcing dan senapan bersilang, rangkaian padi dan kapas, bintang emas pada puncak di tengah-tengah dan dibingkai rangkaian rantai yang tidak putus. Di bawah relief terdapat tulisan yang menyebutkan peristiwa dan daftar pejuang yang gugur.
Sejarah:
Pada hari Sabtu Legi Bulan Februari 1949 Pos-pos Belanda di daerah Jombor, Mlati, Cebongan sampai Jumeneng dihancurkan oleh Pejuang Republik Indonesia. Karena Belanda merasa kesal oleh ulah pejuang tersebut maka bermaksud membersihkan kawasan Mlati Dukuh, Tegal Mraen sampai wilayah Kronggahan. Namun pejuang RI yang dibantu oleh pemuda-pemuda Mlati yang sudah militan karena dilatih oleh kadet Militer Akademi dari Kota Baru yang bernama Kadet Minggo berusaha mengadakan perlawanan dengan cara penyergapan secara tiba-tiba. Karena kalah senjata maka sebanyak 14 pejuang gugur bahkan penduduk ynag dicurigai langsung ditembak dan ada yang dibayonet. Misalnya Bpk Sastro Sardjono dibayonet perutnya namun masih hidup. Sedangkan Sdr Bagong gugur. Kemarahan Belanda juga dipicu adanya jembatan-jembatan di kawasan Kronggahan dan sekitarnya yang dihancurkan pejuang RI. Untuk itu jembatan-jembatan selalu dijaga ketat oleh serdadu Belanda. Untuk mengurangi tekanan dari gerilyawan maka daerah Mlati, Kronggahan, Cebongan sampai Jumeneng dihancurkan. Salah satu korban yang gugur adalah Sersan Yusuf dari Batalyon 151.
Nama-nama korban yang gugur:
Di Cebongan Gugur Sersan Yusuf.
Di daerah Mlati 14 pasukan yaitu:
1. Wignyo Warsito
2. Joyo Iyun
3. Setridirjo
4. Wongsoarjo
5. Karsodimejo
6. Bagong
7. Somoirono
8. Mangunkaryo
9. Manguntaruno
10. Barimah
11. Wongsodirjo
12. Kartowiguno
13. Kartodikromo
14. Tubin.

Alamat : Mlati Jati, Sendangadi, Mlati, Sleman

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Perjuangan Prambanan

Sejarah :
Perlawanan dengan Belanda dipimpin oleh Sudjono dari Batalyon IV Brigadir X Infantri yang ditugasi membuyarkan konsentrasi Belanda di Wilayah Timur. Pasukan ini berhasil mengganggu konsentrasi Belanda yang akan menyerang Ibu Kota RI Yogyakarta. Karena mereka berbaur dengan rakyat, Belanda mengalami kesulitan melacak. Di wilayah ini banyak didirikan lumbung-lumbung padi dan ada gudang Gula Tanjungtirto yang digunakan sebagai markas, sehingga suplay makanan dari rakyat sangat mendukung dalam gerilya. Semangat gerilya pasukan RI pantang menyerah terbukti dengan bisa menghancurkan 1 panser Wagen yang berpatroli di wilayah ini. Karena tidak bisa dipatahkan oleh Belanda maka daerah ini dibumihanguskan. Namun yang menjadi korban malah rakyat sebanyak 25 orang. Untuk menghalangi jalan Belanda, sepanjang jalan Parmbanan-Piyungan dipasang rintangan dan trek bom.

Alamat : Potrojayan Madurejo Prambanan

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Pertempuran Serut


Deskripsi : Batu prasasti

Sejarah : Pada awal bulan Juni 1949, di dekat dusun Serut Prambanan tentara Pelajar Kemerdekaan Batalyon 151, Brigade 10 Divisi III Diponegoro, serta regu tentara gerilya Brigade 17 TNI kompi 4 melakukan serangan terhadap kompeni Belanda yang menuju Wonosari.

Monumen ini diresmikan oleh gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada hari Sabtu, 2 Oktober 2004.

Alamat : Serut, Madurejo, Prambanan

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Kanigoro

Deskripsi : tugu berbentuk segilima dengan relirf bintang ditengah padi dan kapas. Pada puncak segilima tertancap tiang (tiang bendera ?). Tugu ini beralaskan segi empat berundak. Tugu ini terletak ditengah semak belukar di atas bukit Kanigoro, dalam keadaan tidak terawat.
Sejarah : Penyerbuan pasukan Belanda di gunung Kanigoro, Ambarketawang, Gamping oleh gerilyawan, tetapi karena faktor kondisi fisik yang sudah lemah dan peralatan yang kurang memadai, maka pasukan laskar rakyat ini mengalami kekalahan. Pertempuran ini juga meluas ke Watulangkah yang merupakan tempat dapur umum untuk memberi makanan pasukan kita. Dalam pertempuran tersebut yang gugur ditempat ini sebanyak 41 orang pejuang dan dtelah dibangun monumen untuk memperingatinya. Di Watulangkah selain didirikan dapur umum, juga sebagai tempat mengadili apabila ada mata-mata lengkap.

Pelaku yang masih hidup : Bapak Caroko Pawoko (Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Ambarketawang)

Alamat : dusun Kanigoro, Ambarketawang, Gamping

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Kesehatan


Tugu berukuran kurang lebih 0,5 meter.
Sejarah:
Pada waktu klass Belanda ke II tahun 1949 lumbung padi milik Bpk Noto Sukardjo dijadikan Rumah sakit darurat/ gerilya. Rumah sakit ini digunakan untuk menampung gerilyawan Indonesia yang menjadi korban pertempuran dengan Belanda. Tenaga medis yang pernah bertugas antara lain : Dr. Ely Zakir, Suster Popy/ Istri Bpk. Sastroamijoyo.

Alamat : Tanjung, Donoharjo, Ngaglik

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Geneng


Deskripsi : Berbentuk Tugu yang dibagi menjadi tiga sisi, sisi bagian tengah dengan relief situasi pertempuran, sisi kanan dan kiri berisi tulisan puisi tentang perjuangan.
Sejarah :
Monumen perjuangan di dusun Sentul, Geneng, Sidoagung, Godean, Sleman, merupakan monumen bahwa telah terjadi pertempuran antara pasukan gerilya melawan tentara Belanda pada tanggal 6 Mei 1949 dengan komandan kompi Bapak Kapten Widodo (Jono). Dusun Sentul diserang dengan mortir oleh tentara Belanda dari Cebongan, tepatnya di sebelah barat kantor Kecamatan Mlati sekarang. Pada saat itu hari Jum’at Legi, pasar Godean baru hari pasaran, sehingga suasana pasar sangat ramai dan akibat serangan mortir jatuh banyak kurban luka-luka dan tewas. Latar belakang diserangnya Godean karena adanya pasukan gerilya yang bermarkas di dusun-dusun sekitar pasar Godean antara lain : Dusun Sentul Geneng, dusun Godean IV, dan dusun Senuko.
Pada pagi harinya Belanda menyerang dengan mortir, kemudian mendatangi pasar Godean untuk mengecek dan menyisir hasil serangannya. Pasukan TNI RI dan rakyat (Kompi Kesatuan 151) kemudian menghadang pasukan Belanda di dusun Senuko dan Sentul Geneng, sehingga terjadi pertempuran sengit. Penduduk dan pasukan yang gugur antara lain :
1. Ahmad Zaini dari TNI AD
2. Sukirdjo penduduk sipil
3. Jae Sumantoro dari TNI AU
4. Sukirdjan penduduk sipil
5. Amir Patinama dari Brimob
6. Goploh dari Laskar Rakyat
Di Dusun Godean IV, rumah-rumah yang menjadi dapur umum antara lain :
1. Rumah Bapak Karyotomo (almarhum) di Godean IV, Sidoagung, Godean.
2. Rumah bapak Joyo Sudarmo di Jetis, Sidoagung, Godean.

Alamat : dusun Sentul Geneng, Sidoagung, Godean, Sleman

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Pojok


Deskripsi : Tugu segiempat dengan relief berbentuk senapan bersilang dengan bambu runcing, ditengah terdapat topi baja dengan bintang di atasnya. Berdiri di atas batur berundak. Kondisinya tidak terawat.
Sejarah :

Memperingati kejadian pada tanggal 2 April 1949.

Terjadi pertempuran antara pasukan rakyat dengan pasukan Belanda di desa Kebonagung, tepatnya di dusun Pojok. Peristiwa pertempuran ini terjadi berawal dari diketahuinya markas kesatuan Tentara Pelajar oleh pasukan Belanda yang berada di desa Sendangarum, Minggir. Akhirnya tentara rakyat mundur ke arah barat menuju Sendangagung dan bergabung dengan Laskar Rakyat dan Tentara Nasional Indonesia.

Kemudian dengan bergabungnya kekuatan Tentara Pelajar dengan TNI dalam menghadapi Belanda, terjadi pertempuran kembali di wilayah Sendangagung yang berpusat di Kebonagung.
Pelaku yang masih hidup:
1. Harjosumarto
2. Suhadi
3. Siswosumarto

Alamat : Pojok, Kebonagung, Sendangagung, Minggir

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Plataran


Deskripsi : Berbentuk patung Kadet/ taruna berdiri di atas batur yang berisi nama-nama pahlawan yang gugur, dengan latar belakang tugu dan patung burung garuda di atasnya.
Sejarah : Pertempuran terjadi pada hari Kamis Pon di Karanglo, Sambiroto dan Bulusawit, Belanda menggempur tentara republik. Saudara Abdul Jalil gugur dan membawa dokumen markas-markas yang ditempati tentara Wehrkreise. Kemudian Belanda menyisir markas Tentara Republik, menyerang di Bogem. Tentara Republik mundur ke utara, sampai di Plataran terjadi pertempuran yang mengakibatkan 9 orang gugur. Saudara Kusen kepalanya dipenggal oleh Belanda dikira Komaruddin. Plataran merupakan markas Wehrkreise III yang dipimpin oleh Kolonel Jatikusumo. Kurban penduduk banyak berjatuhan di dusun Jetak dan Kringinan. Kemudian didirikan Monumen di dusun Plataran oleh mantan AMN yang pernah bermarkas di sekitar Plataran dan diresmikan pada tanggal 11 November 1977. Monumen didirikan di atas tanah seluas kurang lebih 2.500 m2 berbentuk tugu dan patung pahlawan.
Korban yang gugur :
1. Serma Kadet E. Mustofa
2. Serma Kadet Sudarto
3. Fanderik Kadet Sugiarto
4. Fanderik Kadet Hardo S.
5. Fanderik Kadet Muh Lili. R.
6. TP Letda Kandau
7. Fanderik Kadet Muh Abdullili Rahli
8. Fanderik Kadet Husaen
9. Fanderik Kadet Sunarto
10. Fanderik Kadet Suharsono
11. Letda RM Utoyo Notodiharjo
12. Letda Sukoco
13. Fanderik Kadet Soesanto
14. Fanderik Kadet Subiyakto
15. TP Narwanto
16. Fanderik Kadet Sudibya
17. Letda Kusno Danudjo
18. Fanderik Kadet Tarjono
19. Letda Suroto
20. Letda Prayitno
21. Letda Suseno Utoro
22. Letda Susbanderisman

Alamat : Dusun Plataran, Selomartani, Kalasan, Sleman

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Jambon

Deskripsi: berbentuk tugu dengan simbol topi baja, bambu runcing sebagai simbol laskar rakyat yang telah gugur. Didirikan di atas pondasi/ batur persegi empat. Nama-nama korban pertempuran tercantum di monumen.
Sejarah: Pada tanggal 13 Januari 1949 di Dusun Morangan, Sindumartani, Ngemplak, dengan dipimpin Sudiro dan Munawar para pejuang mengadakan penyerangan ke pos-pos Belanda di Gondang Legi Desa Donoharjo, Ngaglik. Penyerangan tersebut sangat merugikan Belanda baik secara materiil maupun moril yang tidak sedikit. Sehingga Belanda sangat marah. Kemudian dengan dibantu serangan dari udara, Belanda berhasil memukul mundur para pejuang Republik Indonesia yang mengakibatkan gugurnya 7 orang yaitu:
1. KH. Muh Muhdi
2. Zuber
3. Dakiri
4. Dulkahar
5. Bakrun
6. Nawardi
7. Jawabi

Alamat : Monumen Jambon terletak di dusun Jambon, Sindumartani, Ngemplak

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Kembangarum

Deskripsi Monumen :
1. Berbentuk tugu dengan simbol topi baja, bambu runcing sebagai simbol laskar rakyat yang telah gugur. Didirikan di atas pondasi/batur persegi empat. Tertulis nama beberapa korban pertempuran.
2. Prasasti Kembangarum, dari batu andesit, berbentuk persegi panjang, posisi berdiri. Berisi tulisan bentuk puisi tentang perjuangan .
Sejarah :
Monumen ini memperingati terjadinya peristiwa pertempuran di dusun Kembangarum oleh Belanda yang menggempur dusun Kembangarum dari arah Medari dan Turi dengan mortir, tepatnya dari SMPN Turi yang pada waktu itu digunakan sebagai markas Belanda. Peristiwa ini terjadi tanggal 4 Januari 1949, hari Selasa Pahing. Kompi Batalyon 151 yang dipimpin Kapten FX. Haryadi dan KODM Turi menghadang pleton serdadu Belanda yang datang dari Medari, di utara dusun Kembangarum. Kemudian pasukan Belanda kewalahan, mundur ke selatan dan mendapat bantuan kemudian membalas serangan dengan mortir dari arah Medari dan Turi. Kompi 151 dan Kapt Haryadi lari ke arah dusun Tunggul dan gugur. Penduduk yang menjadi korban dan gugur di Kembangarum :
1. Sukitri
2. Pawiro Karyo
Rumah Bapak Wongsopawiro di dusun Randusongo, Donokerto, Turi pada waktu klass ke II digunakan sebagai markas Tentara Pelajar Detasement III Brigade XVII. Tentara Pelajar yang bermarkas di rumah ini a.l Bapak Martono ( mantan Menteri transmigrasi ) dan Bapak Kusdiyo.
Pada tanggal 21 Maret 1949 laskar Tentara Pelajar antara lain Bapak Martono, Bapak Kusdiyo dan kawan-kawan mendapat tugas menyerang ke kota. Kemudian terjadi pertempuran di dusun Gondanglutung, tentara TP terkepung dan dalam posisi terjepit, sehingga Bapak Kusdiyo gugur, sedang Bapak Martono terluka di bagian kepala. Bapak Kusdiyo dimakamkan di dusun Randusongo, Donokerto, Turi. Kemudian pada tanggal 18 Desember 1979 ( hari Selasa Pahing ) makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Jogjakarta.

Alamat : Dusun Randusongo, Donokerto, Turi, Sleman

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Kepanjen

Deskripsi :

Berupa bangunan tugu dari batu bata yang diplester, bentuk piramid pada puncaknya dengan batur setinggi 1 meter, pada bagian kaki batur terdapat prasasti pendirian dengan stempel Kraton Jogjakarta dan prasasti huruf Djawa, berbunyi Pengetan Jumeneng Ndalem.
Monumen Kepanjen ( Tugu ) didirikan dua buah :
1. di sudut barat daya pasar Godean sekarang, atau tepatnya di perempatan pasar Godean.
2. di sebelah utara pasar Godean, tepatnya di halaman depan kantor Telkom sekarang.
Monumen ini didirikan oleh Kraton Jogjakarta pada tanggal 17 Agustus 1936 sebagai tetenger Jumenengan Sri Sultan Hamengkubuwono Kaping VIII. Menurut nara sumber, tempat berdirinya monumen di sebelah utara pasar Godean, dahulu merupakan Dalem/ rumah Panji (Kepanjen) yaitu Panji Notoasmoro, Panji Notosugriwo dan Panji Notosubali.

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Klaci

Deskripsi : merupakan lapangan sepak bola dengan patung pejuang pada tembok depan bagian atas.
Sejarah : Pada saat klass II tahun 1948-1949 Tentara Genie Pelajar (TGP) bermarkas di dusun Klaci II Margodadi Seyegan. Sebagai ungkapan terima kasih setelah masa kemerdekaan mantan anggota TGP yang telah menjabat di pemerintahan membangun Monumen TGP, yang berbentuk stadion dengan patung pejuang yang terbuat dari perunggu untuk menggambarkan tokoh pejuang yang pernah bermarkas di dusun Klaci. Monumen diresmikan pada tanggal 17 Oktober 1982.

Alamat : Klaci, Margodadi, Seyegan

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Kurahan

Deskripsi :
berbentuk tugu dengan simbol topi baja, bambu runcing sebagai simbol laskar rakyat yang telah gugur. Didirikan di atas pondasi/ batur persegi empat. Tertulis nama korban pertempuran.
Sejarah :
Dusun Karangberan, Margodadi, Seyegan, Sleman pada waktu klass ke II dijadikan markas gerilya Tentara Pelajar yang dipimpin oleh Kapten Martono dan Slamet Wibowo. Tepatnya di rumah Bapak Pawirodiharjo di Kandangan, Margodadi, Seyegan. Karena keberadaan markas ini, Belanda menyerang mendadak dan pihak Tentara Pelajar dan rakyat banyak jatuh korban. Rakyat ikut bertempur membantu Tentara Pelajar dan gerilyawan dengan menggunakan senjata tradisional. Kemudian didirikan monumen di dusun Kurahan, tepatnya didepan SD Kandangan II. Dari Tentara Geni Pelajar gugur sepuluh orang yaitu :
1. Kopral Jemu (TNI)
2. Kopral Giyoto (TNI)
3. Kopral Basrin (TNI)
4. Sersan Suwardi (TNI)
5. Pratu Wagimin (TNI)
6. Suwardo (Pasukan Polisi)
7. Sukro (Laskar Rakyat)
8. Sumarjo (Laskar Rakyat)
9. Ngadimin (Laskar Rakyat)
10. Ali Dimejo (Laskar Rakyat)

Alamat : Desa Margodadi, Seyegan didirikan monumen Palagan di dusun Kurahan tepatnya di SD Kandangan I

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Pulerejo

Deskripsi :
Berbentuk tugu dengan simbol topi baja, bambu runcing sebagai simbol laskar rakyat yang telah gugur. Didirikan di atas pondasi/batur persegi empat. Tertulis nama beberapa korban pertempuran.
Sejarah :
Dusun Pulerejo di serang tentara Belanda dan membumihanguskan rumah-rumah penduduk pada tanggal 7 Januari 1949, mengakibatkan 7 warga dusun Pulerejo gugur. Untuk memperingati peristiwa penyerbuan dan gugurnya warga ini, oleh masyarakat dusun Pulerejo dibangun monumen yang berisi 7 nama penduduk yang gugur dan diresmikan oleh Bupati Sleman Bapak Ibnu Subiyanto pada tanggal 17 Agustus 2002.
Penduduk yang gugur :
1. Amatrejo
2. Mulyorejo
3. Basir
4. Karmin
5. Suradiyo
6. Muhtoha
7. Sutinah.

Alamat : Pulerejo, Donokerto, Turi, Sleman

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Rejodani

Deskripsi :

berbentuk tugu dengan simbol topi baja, bambu runcing sebagai simbol laskar rakyat yang telah gugur. Didirikan di atas pondasi/ batur persegi empat. Tertulis nama korban pertempuran.
Sejarah :

Dusun Rejodani dan daerah Ngaglik banyak terdapat markas-markar TP. Dusun Balong, Donoharjo, Ngaglik menjadi markas TP dibawah komando Kapten Martono (mantan Menteri Transmigrasi). Pada tanggal 29 Mei 1949 Belanda menyerang daerah ini. Berita rencana penyerangan dari bakul pasar. Kemudian atas inisiatif Sersan Suwarno dari Peleton III Batalyon 300 dan Kopral Harsono menghadang di daerah Ngetiran. Dalam pertempuran ini gugur 8 orang pejuang :

1. Kopral Harsono

2. Sersan Suwarno

3. FX. Sukapdi

4. Suroyo

5. Supranoto

6. Darjono

7. Sunarto

8. Alibajah

Alamat : Rejodani, Sariharjo, Ngaglik

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Sambilegi

Deskripsi : berbentuk tugu setinggi kurang lebih 1,5 meter, diatas batur seluas 16 meter. Dasar tugu merupakan alas berlapis tiga. Relief yang tertera pada tugu merupakan lambang laskar rakyat, yaitu obor yang menyala, bambu runcing dan senapan bersilang, padi dan kapas, serta dibingkai rantai yang tidak putus.
Sejarah : dalam upaya menghambat pergerakan pasukan Belanda dari pangkalan Adi Sucipto, laskar rakyat mengadakan perlawanan di dusun Sambilegi, Maguwoharjo. Dalam peristiwa ini telah gugur 10 orang pejuang. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1948
Monumen ini dibangun oleh Pemda Sleman untuk memperingati pertempuran yang terjadi di dusun Sambilegi tersebut.
Daftar yang gugur :
1. Bkri Laskar
2. Parto Surijo
3. Arjo Sentono
4. Harjo Sentono
5. Karso Pawiro
6. Kasan Pawiro
7. Sadinomo
8. Kariyo Loso
9. Basiro
10. Sastrohariono

Alamat : Dusun Sambilegi, Maguwoharjo, Kalasan

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Sanggrahan

Deskripsi: tugu segi empat, berdiri di atas batur, dasar tugu merupakan alas berlapis tiga. Bagian depan tugu tertulis nama Kopral Samiyo.
Sejarah: Agressi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948 membuat Angakatan Muda Berbah (AMB) dan Pemerintah Militer Kecamatan (PMKT) mengadakan penyerbuan pada Belanda di Dusun Sanggrahan Tegaltirto Berbah. Sehingga meletuslah pertempuran. AMB dan PMKT adalah pasukan yang solid karena dilatih oleh Kadet Militer Akademi MA dari Kota Baru yang disebar ke desa-desa. Dalam hal ini AMB dipimpin oleh Subagyo.
Karena dusun Krikilan dan Sanggrahan dipandang oleh Belanda sangat rawan karena dekat dengan Pangkalan Udara Adisucipto maka selalu diadakan patroli. Bahkan Belanda bermaksud membumihanguskan desa tersebut. Namun perlawanan tetap dilanjutkan oleh pejuang kita walaupun kebutuhhan persenjataan serta logistik lainnya masih kurang. Setelah Belanda pergi dari Yogyakarta jumlah korban rakyat yang meninggal kurang lebih 52 orang, 96 rumah terbakar serta harta yang tak terhitung nilainya. Untuk mengenang para pahlawan dibangunlah monumen. Korban yang tertulis dalam monumen adalah Kopral Samiyo.

Alamat : Sanggrahan, Tegaltirto, Berbah, Sleman

Sumber : www.tourimsleman.com

Monumen Simon Slamet

Deskripsi Monumen :
Berupa bangunan di atas tanah seluas 400 mtr, berbentuk dinding empat persegi panjang di atas batur seluas 5 x 4 mtr , dengan atap bentuk joglo.
Makam Sdr. Simon Slamet terletak di sebelah kiri ( utara ) monumen, di atasnya dibangun atap ( cungkup ) dan ditancapkan bambu runcing dengan bendera Merah Putih. Sekeliling monumen di beri pagar berupa dinding batu bata setinggi 1 mtr.
Sejarah :
Monumen perjuangan ini didirikan sebagai peringatan atas gugurnya Simon Slamet dari laskar rakyat yang gugur dalam pertempuran melawan tentara Belanda di dusun Palagan Nganggrung pada tanggal 26 April 1949.
Peristiwa dilatarbelakangi oleh pertempuran yang terjadi pada hari Selasa Kliwon, sebelum peristiwa Daleman. Laskar rakyat dan tentara menyerang serdadu Belanda di Dusun Baratan dan wilayah Ngaglik. Penyerangan dimulai dengan tanda memukul kentongan yang bersahut-sahutan. Banyak jatuh korban di pihak Belanda.
Berdasarkan pengalaman ini, pihak Belanda pada hari Jum’at Kliwon tanggal 26 April 1949, waktu dini hari (subuh) mengecoh rakyat daerah Daleman, dengan cara memukul kentongan seolah tanda untuk mengajak rakyat menyerang Belanda. Masyarakat dusun Nganggrung, Daleman dan Nangsri tertipu, bergegas keluar rumah dengan senjata seadanya. Belanda sudah siaga di sepanjang rel lori di utara dusun Nganggrung dan menembaki rakyat. Bapak Simon Slamet yang berlari ke atas rel, karena tidak tahu keberadaan Belanda, ditembak dan gugur di tempat. Korban luka yaitu Bapak Soeyono yang tertembak di bagian kaki.
Bapak Simon Slamet dimakamkan di TPU dusun Daleman, kemudian pada tahun 1987 atas inisiatif warga dan sebagai penghargaan atas jasanya, makamnya dipindahkan di sebelah barat dusun Daleman dan dibuatkan monumen di atas tanah kas desa seluas + 400 m2.

Alamat : Daleman, Girikerto, Turi ,Sleman

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Tani

Deskripsi : Tugu batu segi empat, dilapisi keramik putih. Pada bagian depan terdapat tulisan Perlombaan tanam padi
Sejarah : Monumen yang dibangun pada tahun 1950 ini terletak di Kecamatan Prambanan, tepatnya di depan kantor kecamatan Prambanan. Monumen ini dibangun sebagai peringatan bahwa pada tahun 1950 pada kepemimpinan C Projosugondo yang pada waktu itu menjabat Penewu Pamong Praja, kecamatan Prambanan menjadi juara lomba pertanian khususnya tanaman padi. Peresmian monumen tani ini dilakukan oleh Wedono Projowinogo pada tahun 1950.

Alamat : kompleks kecamatan Prambanan

sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Tetenger Brayut

Deskripsi : berbentuk tuga segi empat, terletak di atas batur bertingkat. Bagian depan terdapat undakan. Berlambang obor menyala, senjata bersilang, padi dan kapas, dicat merah.
Sejarah : Pada pagi hari sekitar pukul 05.00 tanggal 6 Mei 1949 para pejuang pimpinan Soeparjo Suryo di Brayut dikejutkan berita yang dibawa seorang Polisi Pager Praja yang bernama Supeni, bahwa dari arah Yogyakarta ada sepasukan Belanda menuju Turi.
Bakir, sebagai komandan penyerangan segera membangunkan anak buahnya, yang semalam ada 35 orang, tetapi ternyata pagi itu hanya ada 9 orang. Yang lain jelas tidak mungkin karena sudah bangun dan entah kemana. Karena kekuatan hanya 1 regu, jelas tidak mungkin menghadapi Belanda. Sebagai langkah pengamanan mereka menenggelamkan senjatanya dan mundur ke arah utara. Ternyata Belanda tidak hanya dari arah selatan, tetapi juga dari arah utara dan timur.
Pasukan Bakir akhirnya dapat bergabung dengan pasukan Sriyono melindungi rakyat Brayut sambil memberikan perlawanan kepada Belanda. Dalam pertemputan Brayut yang menjadi korban sebanyak 14 lorang. Daftar korban :
1. Sarjiman
2. R. Budiwiyono
3. Darmo Suprapto
4. Prawirodimejo
5. Kromo
6. Suridikromo
7. Cokrowiharjo
8. Jono
9. Kusen
10. Haryono
11. Suprapto
12. R. Supraptoharjo
13. Wongso Paijo
14. Dalijo
Monumen Brayut dibangun untuk mengenang pertempuran akibat penyerbuan Belanda ke dusun Brayut untuk mencari para pejuang yang bersembunyi di dusun tersebut. Monumen dibangun oleh Pemda Sleman.

Alamat : dusun Brayut, Pendowoharjo, Sleman

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Tunggularum

Deskripsi :
1. Gedung pertemuan, bentuk atap joglo, dan berupa ruangan terbuka ( aula ), tanpa dinding, tampak depan bentuk kuncungan, dengan pilar-pilar sebagai penyangga.
2. Monumen Tunggularum : bentuk tugu bambu runcing yang berdiri di atas batur / pondasi segi empat dan bentuk bintang sebagi dasar berdirinya bambu runcing. Pada sisi–sisi dinding terdapat relief berupa senjata dan topi tentara.
Sejarah :
Pada hari Kamis Wage 6 Januari 1949, pasukan Kapten FX.Haryadi di kejar dan dikepung oleh Pasukan Belanda dari Turi yang mendapat bantuan pasukan dari Magelang. Pasukan Kapten FX. Haryadi yang menyingkir ke Dusun Tunggul setelah pertempuran di Turi, tidak dapat bertahan lama terhadap gempuran tentara Belanda. Kapten FX. Haryadi gugur ditembak pasukan Belanda. Untuk mengenang peristiwa gugurnya Kapten Haryadi, keluarga WK III Jakarta membangun gedung pertemuan KaptenFX.Haryadi yang diresmikan oleh Menko Polkam Jend ( Purn ) Susilo Sudarman pada tanggal ………… Kemudian Pemda Sleman juga membangun monumen berbentuk tugu bambu runcing, dinamakan monumen Tunggularum sebagai tetenger peristiwa gugurnya Kapten FX. Haryadi dan seorang penduduk yaitu Bapak Kariyodimejo.

Alamat : Dusun Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman

sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Watu Bale

Deskripsi: Tugu prasasti yang merupakan peringatan atas terjadinya pertempuran yang terjadi di Watubale
Sejarah:
Pada hari Senin Wage Bulan April 1949, ratusan tentara Belanda mengadakan operasi di daerah sekitar pabrik tembakau. Sekitar jam 5 pagi Belanda telah berada di rumah-rumah bekas pabrik tembakau Sorogedug dengan mengadakan tembakan-tembakan di daerah yang akan dioperasi di lereng gunung Watubale Ngumbulsari dan sekitarnya yang diduga Belanda tempat tersebut sebagai markas para gerilyawan. Setelah sampai di sungai sebelah Timur Jogonalan tentara Belanda diserang poleh gerilyawan yang dipimpin oleh komandan regu Sumpeno dengan kekuatan 30 orang. Di tempat tersebut terjadi pertempuran sebentar karena waktunya masih pagi benar. Maka terjadilah pertempuran dengan senjata tajam.
Tentara Belanda setelah sampai di sebelah timur makam Tono berhenti dan berkumpul dengan melihat gambar lokasi. Pada kesempatan yang baik itu komandan seksi Adisucipto memerintahkan kepada para pengawalnya yaitu Bpk. Dirun untuk menembak gerombolan tentara yang sedang berkumpul tersebut dan salah satu tentara Belanda tertembak. Secara tiba-tiba Belanda kacau dan lari berpencar serta mengadakan tembakan balasan dengan senjata berat tekidanto.
Setelah tembak-menembak 1 jam datanglah bantuan dari seksi pratelo yang ditempatkan di Desa Grogol agar siap mencegat bila Belanda datang dari markas Piyungan. Tentara kita mempunyai perhitungan bahwa untuk mempercepat jalannya pertempuran perlu diadakan pasukan berani mati (Jibakutai). Dengan kesadaran dan keiklhasan berkorban demi negara maka ada 8 orang yang mengajukan diri yaitu:
1. Hadisujtipto
2. T. Tjiptosudarmo
3. Dirun Sastromiyardjo
4. Marjuni
5. Purwadi
6. Ponijo
7. Eko
8. Wagiman.
Kerugian yang diderita oleh kedua belah pihak:
Dari Belanda:
Menurut laporan dari rakyat yang dilalui Belanda di kampung Sembir dan Sorogedug ada 33 jenazah. Adapun satu tentara Belanda yang tertinggal di dekat makam Tono, sehabis pertempuran jenazah tersebut dikubur oleh masyarakat setempat di desa Sawo. Setelah keadaan normal kembali jenazah diambil oleh petugas dari Pemerintah Belanda.
Korban dari pihak Republik:
1. Purwadi
2. Notosuharto
3. Atmopawiro
4. Sastrodimejo
5. Sokariyo
6. Tukijan
7. Setrojumeno.

Alamat : Watubale, Sumberharjo, Prambanan

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Watulangkah

Deskripsi: Berupa sebuah batu andesit dengan batu marmer di tengahnya, dikelilingi pagar rantai yang sudah rusak, berisi tulisan/ prasasti: Tetenger sebagai tempat bekas markas staf Kwartier Sub Wherkreise 103 pimpinan Let.Kol. Soehoed dari tanggal 19 – 12 – 1948 s.d 29 – 6 – 1949.
Sejarah : Sebagai tanda terima kasih kepada masyarakat dusun Plempuh, Watulangkah dan tetenger bahwa di dusun ini pernah berjasa sebagai markas tentara Wherkreise 103, maka oleh salah seorang anggotanya yaitu Bapak R. Shaidi yang beralamat di Gowongan didirikan monumen pada tahun 1998.

Alamat : Watulangkah, Ambarketawang, Gamping

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Cepet


Deskripsi : berbentuk tugu dengan simbol topi baja, bambu runcing sebagai simbol laskar rakyat yang telah gugur. Didirikan di atas pondasi/ batur persegi empat. Tertulis nama korban pertempuran.
Sejarah: Pada tanggal 2 Januari 1949 pasukan Belanda yang bermarkas di Watuadeg diserang pasukan KODM Pakem pimpinan Letda Asropah dan pasukan TP pimpinan Kapten Martono. Pasukan Belanda lari ke arah selatan, sampai di dusun Cepet jam 06.30 dihadang pasukan Subadri dari Gatep. Pertempuran terjadi sampai jam 10.00 wib. Korban dari pihak Belanda 4 orang.
Kemudian pada tanggal 11 Januari 1949 terjadi pertempuran kembali antara Tentara Republik dengan pasukan Belanda. Dalam pertempuran ini gugur 2 orang dari Tentara Republik, yaitu :
1. Letda Kasijan.
2. Agen Polisi Soekardjo.

Alamat : Cepet, Purwobinangun, Pakem

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Bambu Runcing


Deskripsi :
Tugu dengan bentuk padma pada puncaknya, di bagian latar belakang terdapat tugu bentuk dua buah Bambu Runcing berdampingan. Di sebelah kiri dan kanan tugu terdapat prasasti yang berisi nama-nama pahlawan yang gugur dan prasasti peresmian oleh KGPAA Pakualam VIII pada tanggal 15 Januari 1987.
Sejarah :
Pada hari Jum’at Legi tanggal 28 januari 1949, tentara Belanda mengadakan serangan dari daerah Bantul menuju ke utara melalui Selarong, Bibis, Bangunjiwo dan berhenti, menghadang di Gunung Kanigoro. Sementara itu patroli-patroli Belanda dari kota mengadakan patroli rutin dan melakukan pengejaran dan penyerangan di dusun Sorogenen, Tlogo dan terkhir di dusun Kalimanjung dengan tembakan-tembakan yang gencar. Laskar Rakyat dan penduduk menyingkir dan mengungsi ke arah selatan, keluar dari dusun Kalimanjung menuju ke gunung Kanigoro yang dianggap aman, karena tidak mengetahui keberadaan pasukan Belanda dari arah Bantul. Rombongan Laskar Rakyat dan penduduk dengan susah payah dan dalam kondisi letih mendaki gunung Kanigoro, kemudian di serang pasukan Belanda dari arah puncak Kanigoro. Karena serangan yang membabi buta korban berjatuhan yang terdiri dari penduduk sipil, wanita dan anak-anak berjumlah 41 orang. Nama-nama yang gugur :
1. Syamsudin
2. Prawirowahono
3. Harjo Prawoto
4. Ny. Harjoprawoto
5. Wagimin
6. Tjokrodikromo
7. Soeradi
8. Harjomoelyono
9. Kartowijono
10. Kartodimejo
11. Kartooetomo
12. R.Soejadi
13. Mangoen Wijono
14. Karsowiyono
15. Atmosihono
16. Prawirowiyono
17. Darmowiyono
18. Soemowinarto
19. Pawirodikromo
20. Kertodikromo
21. Karijosuwarno
22. Ehe
23. Karijodjojo
24. Hardjodirjo
25. Sastrodimejo
26. Moejimin
27. Ny.Tomedjo
28. 14 orang tak dikenal.

Alamat : jalan raya Jogja Wates, dusun Bodeh, Ambarketawang, Gamping, Sleman

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Argomulyo


Deskripsi : berbentuk tugu dengan simbol topi baja, bambu runcing sebagai simbol laskar rakyat yang telah gugur. Didirikan di atas pondasi/ batur persegi empat. Tertulis 10 nama korban pertempuran, yaitu :
1. Suharjo
2. Sukarman
3. Arjowinangun
4. Wahadi
5. Driyo Pawiro
6. Sukaryo
7. Sami
8. Kasido
9. Marsum
10. M. Jaidu.
Sejarah :
Terjadi penyerbuan oleh tentara Belanda pada bulan Maret 1949, di sekitar Argomulyo, Cangkringan. Pasukan Belanda membumihanguskan rumah-rumah penduduk di dusun-dusun sekitar Argomulyo. Kemudian pasukan Belanda menangkap Lurah Argomulyo yang bernama Suharjo dan Carik Desa Argomulyo yang bernama Sukarman, yang kemudian ditembak di persawahan dan gugur. Selain kedua perangkat desa tersebut, terdapat 8 orang penduduk yang gugur.
Setelah peristiwa pertempuran tersebut, pasukan laskar rakyat dan Kadet Akademi Militer yang dipimpin Kolonel Jatikusumo, Kolonel Perngadi dan Letnan Sardjono menyerang Belanda. Dari pihak Belanda banyak jatuh korban dan pasukan Belanda mundur ke Kaliurang. Untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur maka didirikan monumen perjuangan di Argomulyo, Cangkringan. Tepatnya di depan Balai Desa Argomulyo.
Sebelum terjadi penyerbuan di Argomulyo, Pasukan Belanda mengadakan patroli menyisir ke kampung-kampung dari arah selatan berjalan ke arah dusun Penting. Mengetahui hal tersebut, laskar rakyat dan penduduk di sekitar Jabalkat berjaga-jaga, menghadang dan berlindung di parit-parit pinggir jalan dusun Tanjung dan Kiyaran. Ketika melewati dusun ini, terjadi tembak-menembak antara pasukan Belanda dan Laskar rakyat. Dalam pertempuran ini bapak Wanayik atau Sayid Barnadian dari laskar rakyat gugur tertembak Belanda disebelah barat lapangan Jabalkat, kemudian dimakamkan di dusun Duwet, Wukirsari, Cangkringan. Nama bpk Wanayik belum tercantum dalam monumen Argomulyo, sementara dari pihak Desa dan masyarakat akan membangun monumen, tetapi belum terwujud karena kendala dana.

Alamat : Argomulyo, Cangkringan, Sleman

Sumber : www.tourismsleman.com

Museum Geoteknologi Mineral UPN


Museum yang terletak di jalan Babarsari 2 Tambakbayan Yogyakarta ini diresmikan pada tanggal 17 Februari 1988 oleh Menhankam RI Jenderal (Purn) Ponimin. Pendirian Museum Geoteknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta diprakarsai oleh Prof. Drs. H. R. Bambang Soeroto (Rektor I UPN). Pendirian museum dimaksudkan untuk mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan iptek kebumian sekaligus ajang promosi bagi UPN “Veteran” Yogyakarta.

Sesuai dengan namanya, museum di bawah naungan UPN Yogyakarta ini banyak mengoleksi jenis mineral, batuan, bahan tambang, maket, foto, gambar-gambar kebumian dan replika. Keseluruhan koleksi yang dimiliki sekitar 1.252 buah yang didomunasi oleh jenis batuan. Koleksi tertua adalah replika fosil trilobit tetracoral crinoid berumur 570 – 230 juta tahun yang lalu. Sementara koleksi unggulan adalah berupa fosil kepala gajah purba (maestodon SP) yang diperkirakan hidup pada masa prasejarah/ masa pleistosen atas (3 juta tahun yang lalu). Disamping itu ada pula koleksi batu Amethyse berwarna ungu dan batu giok hijau.

Museum melayani pengunjung pada hari Senin – Kamis jam 08.00 – 14.00 WIB dan Jumat jam 08.00 – 11.00 WIB. Pengunjung tidak dipungut biaya. Museum Geoteknologi Mineral UPN “Veteran” telah melengkapi dirinya dengan fasilitas, seperti: ruang audio visual, musholla, tempat parkir dan toilet.

Lokasi : Jl. Babarsari No. 2 Tambakbayan, Yogyakarta 55281

Telp : (0274) 485268 psw 17, 486991

Sumber : www.tourismsleman.com

Museum Affandi


Museum yang terletak di jalan Adisucipto 167 ini memiliki 3 gedung ruang pameran. Pada tahun 1962 Affandi membangun gedungruang pameran yang pertama untuk memamerkan karya-karyanya. Pada tahun 1974 diresmikan oleh Dirjen kebudayaan Prof. Ida Bagus Mantra. Ruang pameran kedua dibangun atas bantuan pemerintah tahun 1987 dan diresmikan tanggal 9 Juni 1988 oleh Mendikbud Prof. Fuad Hasan. Sementara ruang pameran ketiga dibangun oleh Yayasan Affandi tahun 1997 dan diresmikan tanggal 18 Mei 2000 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Konsep dan desain bangunan menyerupai lembaran daun pisang dibuat sendiri oleh Affandi yang terinspirasi dari pengalaman masa kecilnya.

Affandi yang mendapat julukan “Pelukis Maestro” tingkat dunia mempunyai koleksi sebagian besar barupa lukisan kertas, cat air, pastel dan cat minyak dengan jumlah sekitar 300 buah. Affandi juga mengoleksi lukisan karya teman-teman seprofesinya, seperti lukisan Sudjojono, Hendra Gunawan, Barli, Muchtar Apin, Popo Iskandar, dan lain-lain. Koleksi lain museum Affandi adalah mobil sedan Mitsubishi Gallant tahun 1975, sepeda Reliegh tahun 1975, lukisan keluarga Maryati, Kartika, Rukmini, Juki Affandi dan sebagainya. Koleksi tertua dibuat Affandi tahun 1936. Koleksi unggulan berupa lukisan Affandi yang berjudul “Potret Diri Menghisap Pipa” (berukuran 125 x 99 cm) tahun 1977, “belajar Anatomi Duduk Telanjang (Potret Affandi)” (berukuran 118 x 76 cm) tahun 1948.

Museum Affandi dibuka untuk umum pada hari Senin-Minggu pukul 08.00 – 13.30 dan Sabtu pukul 09.00 – 13.00. Fasilitas pendukung yang terdapat di Museum Affandi adalah artshop, perpustakaan, toilet, kolam renang, menara pandang, rumah panggung dan mushola.

Lokasi : Jl. Adi Sucipto 167

Telp : (0274)562593

Museum Dirgantara Mandala


Keberadaan Museum TNI AU Dirgantara Mandala didirikan atas gagasan dari pimpinan TNI AU untuk mengabadikan dan mendokumentasi segala kegiatan dan peristiwa bersejarah di lingkungan TNI AU. Museum ini diresmikan tanggal 4 April 1969 di Jalan Tanah Abang, Bukit, Jakarta oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Rusmin Muryadin. Berdasarkan berbagai pertimbangan bahwa kota Yogyakarta pada periode 1945 – 1949 mempunyai peranan penting sejarah, yaitu sebagai kawah candradimuka bagi Kadet Penerbang/Taruna Akademi Angkatan Udara, maka pada bulan November 1977 museum yang semula berkedudukan di Jakarta dipindahkan ke Yogyakarta dan digabungkan dengan Museum Ksatrian AAU di pangkalan Adisucipto. Selanjutnya tanggal 29 Juli 1978 diresmikan sebagai Museum Pusat TNI AU “Dirgantara Mandala”. Tahun 1984 museum dipindahkan ke Wonocatur, tepatnya ke sebuah gedung bekas pabrik gula yang dibangun semasa penjajahan Belanda.

Museum Pusat TNI AU “Dirgantara Mandala” memiliki koleksi meliputi beragam foto, panji-panji, diorama, pakaian dinas, pesawat terbang, senjata, prasasti, patung, lukisan, tanda kehormatan serta koleksi buku. Pesawat yang menjadi koleksi museum ini diantaranya adalah pesawat terbang dari bahan aluminium hasil produksi pertama yang dibuat tahun 1948 di Maospati, Madiun oleh Nurtanio dan replika Pesawat Dakota VT-CLA milik perusahaan penerbangan India yang ditembak jatuh di daerah Ngotho, Bantul oleh Belanda ketika hendak mendarat di Maguwo Yogyakarta.

Museun Dirgantara Mandala dibuka untuk umum pada setiap hari pukul 08.30 – 14.30. Fasilitas pendukung yang terdapat di museum Dirgantara Mandala adalah perpustakaan, auditorium, tempat parkir, musholla dan toilet.

Lokasi : kompleks Lanud Adi Sucipto

Telp : (0274)488466

Sumber : www.tourismsleman.com

Monumen Pahlawan Pancasila


Museum Monumen Pahlawan Pancasila terletak di kopleks Batalyon 403 Kentungan Sleman (dahulu Batalyon L) di tepi sebelah selatan. Di tempat ini pada tahun 1965 telah terjadi peristiwa pembunuhan terhadap dua orang pahlawan revolusi yaitu Brigadir Jenderal Anumerta Katamso dan Kolonel Anumerta Sugiyono. Tujuan didirikannya Museum Monumen Pahlawan Pancasila Kentungan untuk mengenang terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap dua orang pahlawan revolusi dan dapat dijadikan sarana efektif dalam memberikan informasi yang mudah dihayati oleh semua pihak tentang bukti-bukti sejarah kekejaman G30S/PKI tahun 1965 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Museum ini diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1991 oleh KGPAA Paku Alam VII selaku Gubernur DIY.

Bangunan Monumen Pahlawan Pancasila bercorak arsitektur rumah tradisional Jawa (joglo). Di halaman bagian dalam terdapat dua patung pahlawan revolusi Kolonel Infanteri Katamso ketika menjabat sebagai Danrem 072/ Pamungkas dan patung pada sisi barat merupakan penggambaran Letnan Kolonel Infanteri Sugiyono ketika menjabat Kasrem 072/ Pamungkas. Di dalam bangunan ini terdapat lubang tempat dikuburnya dua jenasah pahlawan revolusi tersebut. Di sebelah selatan lubang terdapat patung Garuda Pancasila yang diletakkan di atas selasar menghadap ke utara yang merupakan lambang perjuangan.

Koleksi Museum Monumen Pahlawan Pancasila berupa benda-benda realita dan peralatan-peralatan yang berkenaan dengan peristiwa penculikan kedua pahlawan revolusi. Koleksi yang menjadi unggulan adalah dua buah panser replika kendaraan angkutan pada waktu pemakaman jenasah dua orang pahlawan revolusi ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara. Koleksi unggulan lainnya berupa mobil Gaz yang dipakai untuk menculik kedua pahlawan tersebut.

Pelayanan pengunjung setiap hari Senin – Kamis jam 08.00 – 12.00 WIB, Jumat dan Sabtu jam 08.00 – 11.00 WIB.

Lokasi : Kentungan, Condongcatur, Depok, Sleman

Telp : (0274) 562319

Sumber : www.tourismsleman.com

Museum Paleoantropologi


Museum Paleoantropologi merupakan bagian dari Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi dibawah Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Museum ini berada di jalan Medika, Sekip, Yogyakarta tepatnya di seberang jalan barat gedung Grha Sabha Pramana UGM. Museum dari Laboratorium Paleoantropologi ini pada dasarnya ingin membantu para pengunjung untuk mengenal diri sendiri lebih jauh dan lebih dalam, siapa saya? Apa? Mengapa? Bagaimana? Dan Kapan saya hadir di bumi sebagai apa? Dan sebagainya. Untuk mengenal hal tersebut tentu saja dengan dasar-dasar pengetahuan, tidak mungkin kita mempelajari dan mengenal diri kita tanpa mengenali segala sesuatu yang berada di sekeliling kita. Selama ini kita selalu menyatakan diri sebagai makhluk yang bernama manusia dan senantiasa menganggap diri sebagai satu-satunya makhluk yang terunggul di bumi. Namun kita sering lupa bahwa tanpa sesuatu yang berada di sekeliling kita tidak mungkin kita tetap ada, karena itu dalam museum ini disajikan keterkaitan tiga faktor utama yang ada di bumi yaitu lingkungan (alam, fauna, flora), budaya dan manusia yang saling terkait dan tidak mungkin dipisahkan.

Museum ini menyajikan materi pameran antara lain: sejarah hayat, pohon hayat, beda ciri manusia dan kera, filogeni hewan, filogeni manusia, ontogeni, paleoanthropologi Indonesia, paleoanthropologi dunia, evolusi alat-alat budaya, situs prasejarah di Indonesia, situs prasejarah dunia, fosil-fosil hewan purba dan fosil-fosil manusia purba.

Lokasi : Kompleks Universitas Gadjah Mada

Telp. : 0274-902546

sumber : www.tourismsleman.com

Museum Ulen Sentalu






Keberadaan Museum Ullen Sentalu tidak dapat dipisahkan dengan Taman Kaswargan yang terletak satu kawasan dengan tempat-tempat bersejarah Kaliurang, seperti Pesanggrahan Hastorenggo yang dibangun Sultan Hamengku Buwono VII (1877 – 1921) dan Wisma Kaliurang tempat diselenggarakan Perundingan Komisi Tiga Negara pada masa Revolusi Kemerdekaan RI (1945 – 1949). Museum ini merupakan salah satu museum seni budaya Jawa yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Awal mula berdirinya museum tersebut berangkat dari kecintaan sebuah keluarga yang dibesarkan di lingkungan batik dan tekstil. Melihat kenyataan bahwa pada tahun 1970-an banyak batik kuno diburu oleh kolektor-kolektor asing, menimbulkan rasa prihatin keluarga tersebut yang kemudian mendirikan Yayasan Ullen Sentalu dengan tujuan menyelamatkan batik-batik kuno. Upaya itu mendapat sambutan positif dari empat kerabat Kraton Dinasti Mataram, bahkan mereka bersedia menjadi pelindung yayasan, antara lain Sri Paduka Paku Alam VIII (Pengageng Pura Paku Alaman 1937 – 1998), Sunan Paku Buwono XII (Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat 1945 – 2004), Gusti Kanjeng Ratu Alit KGPH Poeger (Paman Sri Sultan HB X Raja Ngayogyakarta Hadiningrat 1989 – sekarang), dan GRAy Nurul Kusumawardhani (Putri Permaisuri Sri Mangkunegara VII). Melalui kerabat kraton inilah Museum Ullen Sentalu mendapat hibah benda-benda pribadi berupa kain batik, asesoris, foto, naskah dan cerita-cerita tentang kehidupan di dalam Keraton.

Bangunan museum ini didominasi arsitektur indah yang lazim disebut dengan istilah In Teh Field Architecture yaitu konsep keseluruhan bangunan sebagai harmonisasi alam dengan lingkungan. Penggagas konsep arsitektur Museum Ullen Sentalu adalah DR. KP. Samuel Widyadiningrat. Museum Ullen Sentalu mempunyai dua bangunan utama, yaitu Guwa Selo Giri (bangunan bawah tanah) dan Kampung Kambang (kompleks bangunan di atas kolam air). Kampung Kambang terdiri atas bagian bangunan Bale Sekar Kedaton, Pendapa Pengantin Gaya Yogya, Ruang Batik Gaya Yogya dan Surakarta, Ruang Batik Pesisiran dan Ruang Putri Dambaan.

Koleksi Museum ini tersimpan di Guwa Selo Giri dan Kampung Kambang, baik berupa lukisan, kain batik, naskah dan sebagainya.

Pelayanan terhadap pengunjung setiap hati Selasa – Minggu jam 09.10 – 15.30 WIB. Fasilitas lain yang mendukung museum diantaranya: taman, Art Shop, Gallery, Restaurant, pemandu.

Lokasi : Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman

Telp. : (0274) 895161, 880158

Monumen Yogya Kembali


Monumen Yogya Kembali dibangun pada tanggal 29 Juni 1985 dengan penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan HB IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Pendirian monumen ini merupakan usulan Dr. Ruslan Abdulgani dan Marsudi yang kemudian dilontarkan oleh Kolonel Soegiarto selaku Walikota Yogyakarta dalam peringatan Yogya Kembali yang diselenggarakan pada tanggal 29 Juni 1983. Monumen ini kemudian diresmikan pada tanggal 6 Juli 2006 oleh presiden Soeharto dengan penandatangan prasasti. Lokasi pembangunan Monumen ditetapkan oleh Sri Sultan HB IX dengan dasar pertimbangan letak di garis poros antara gunung Merapi – Monumen Yogya Kembali – Tugu Pal Putih – Keraton – Panggung Krapyak – Laut Selatan. Pemilihan nama “Yogya Kembali” mempunyai maksud sebagai tetenger peristiwa sejarah dengan mundurnya tentara Belanda dari Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta. Pendirian Monumen Yogya Kembali disamping untuk mengenang peristiwa bersejarah seperti tersebut di atas juga mempunyai tujuan lain, yaitu: (1) mengabdikan peristiwa kembalinya Ibukota Yogyakarta ke tangan bangsa Indonesia dan (2) memperingati kembalinya Ibukota Yogyakarta ke tangan bangsa Indonesia sekaligus berakhirnya penjajahan kolonialis Belanda di Indonesia.

Koleksi Museum Monumen Yogya Kembali terdiri atas henaldika, kapal (miniatur), pesawat (miniatur), kendaraan tradisional, senjata, alat – alat perhubungan, evokatif, diorama dan relief - relief perjuangan. Koleksi unggulannya berujud diorama Panglima Besar Soedirman menghadap Presiden dan Wakil Presiden di Istana Kepresidenan pada tanggal 10 Juli 1949.

Museum Monumen Yogya Kembali dibuka setiap hari Selasa – Minggu pukul 08.00 – 17.00 WIB. Fasilitas penunjang yang mendukung keberadaan museum terdiri dari ruang pengelola atau ruang bagian umum lengkap dengan ruang informasi, perpustakaan, ruang serba guna, ruang souvenir, taman bermain anak-anak, ruang kesehatan, musholla, dan ruang rias.

Lokasi : Ringroad Utara, dusun Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman

Telp : (0274)868225, 868239


Sumber : www.tourismsleman.com

Museum Gunungapi Merapi


Museum Gunung Api Merapi dibangun atas kerjasama Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dengan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Museum dibangun tahun 2005 dan diresmikan penggunaan 1 Oktober 2009. Terletak dikawasan Wisata Kaliurang, diantara dua jalan utama menuju Gerbang Utama Boyong dan Gerbang Utama Ngipiksari. Dari arah Yogyakarta melalui Jalan Kaliurang sebelum Gerbang Utama Ngipiksari Kaliurang (Banteng) belok kiri, atau ambil jalan ke kiri di Depan Panti Asih ikuti petunjuk arah MGM.

Meningkatnya geo-wisata kegunungapian di daerah Istimewa Yogyakarta khususnya Gunungapi Merapi. Menyampaikan informasi dan pendidikan Ilmu Kebumian terutama yang berkaitan dengan mitigasi bencana letusan gunungapi, mendorong pengembangan potensi ekonomi rakyat yang mendukung pariwisata.

Nama Gunung Merapi sendiri lokasinya secara adminitratif termasuk Kab. Sleman, Propinsi D.I.Yogyakarta, Kab. Magelang, Kab. Boyolali, Kab. Klaten, Prop. Jawa Tengah. Ketinggiannya 2986 m. dpl (kondisi tahun 2006). dan tipe Gunungapi adalah tipe strato dengan kubah lava.

Museum Gunung Merapi

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang terletak di jalur pertemuan lempengan bumi sehingga menjadi negara yang rawan gempa. Selain itu, Indonesia juga berada di kawasan cincin api yang memiliki 500 gunung berapi di mana terdapat 129 gunung berstatus aktif. Jumlah itu mencakup 13 persen dari total gunung api aktif di dunia. Hal itu tentu saja kembali menegaskan bahwa Indonesia terletak di daerah rawan bencana. Oleh karena itu, diperlukan sebuah upaya mitigasi untuk menekan jumlah korban jiwa ketika bencana melanda.

Museum Gunung Merapi sebagai sebuah wahana wisata baru yang dibangun di kawasan lereng selatan Merapi hadir untuk menjawab hal tersebut. Obyek wisata yang dirancang sebagai wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunung api, gempa bumi, dan bencana alam lainnya ini diresmikan pada tanggal 1 Oktober 2009 oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro.

Museum yang memiliki semboyan “Merapi Jendela Bumi” ini menempati lahan seluas 3,4 hektar dengan luas bangunan 4.470 meter persegi dan terdiri dari dua lantai. Lantai pertama berisikan benda-benda koleksi museum yang dibagi dalam ruangan-ruangan dengan tema Volcano World, On The Merapi Volcano Trail, Manusia dan Gunung Api, Bencana Gempa Bumi dan Tsunami, Bencana Gerakan Tanah, Diorama, Peralatan Survey, Extra-terestrial Volcano, dan fasilitas penunjang lainnya. Sedangkan lantai dua digunakan sebagai gedung pemutaran film tentang Gunung Merapi, yang saat ini masih dalam proses pengerjaan.

B. Keistimewaan

Suhu yang sejuk bahkan cenderung dingin akan menyambut saat Anda melangkahkan kaki dari tempat parkir menuju pelataran museum. Jika cuaca sedang cerah, puncak Merapi yang kokoh dan rimbunnya pepohonan akan terlihat sebagai latar belakang bangunan museum. Menaiki satu persatu anak tangga yang ada di pelataran museum akan mengingatkan Anda pada pintu gerbang utama kompleks Candi Ratu Boko. Hal ini tidaklah berlebihan, karena konsep pembangunan Museum Gunung Merapi lekat dengan nilai-nilai filosofis Jawa. Arsitektur museum sendiri merupakan representasi dari bentuk candi (pintu utama dan pelataran), tugu Jogja (puncak bangunan), Gunung Merapi (bangunan keseluruhan), serta konsep keraton sebagai citra dunia (denah bangunan yang sentripetal).

Memasuki pintu utama, Anda akan disambut dengan maket Gunung Merapi berukuran besar yang terus menerus mengeluarkan asap dan memuntahkan magma. Tak ketinggalan pula terdengar bunyi gemuruh yang menggelegar dari gunung tersebut. Jika Anda ingin mengetahui tentang kronologis meletusnya Gunung Merapi, Anda dapat memencet tombol narasi yang ada di samping maket tersebut. Tak berapa lama akan terdengar suara narator dengan backsound musik Jawa menceritakan kisah meletusnya Gunung Merapi. Selain itu, terdapat tiga tombol yang masing-masing bertuliskan tahun 1969, 1994, dan 2006. Jika Anda memencet salah satu tombol tersebut, maka sebaran aliran magma akan berubah sesuai dengan kejadian yang terjadi pada tahun tersebut.

Selanjutnya Anda akan memasuki zona dunia gunung api. Di zona ini terdapat berbagai foto dokumentasi dan alat peraga tentang fenomena kegunungapian yang ada di seluruh dunia. Foto-foto dan alat peraga tersebut disajikan lengkap dengan keterangan dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jadi, meskipun Anda datang sendirian tanpa pemandu, dijamin Anda pasti akan paham dengan semua gambar-gambar tersebut.

Setelah puas menikmati zona dunia gunung api, Anda dapat meneruskan langkah menuju zona khusus Gunung Merapi. Semua informasi tentang Gunung Merapi disajikan di ruangan tersebut. Mulai dari fenomena pertumbuhan kubah Gunung Merapi, mitos seputar Gunung Merapi, pos pengamatan Gunung Merapi dari era Belanda hingga era modern, dan masih banyak lagi. Semua disajikan dalam gambar dan foto yang menarik. Tak hanya itu, di zona tersebut juga ditunjukkan bagaimana caranya menyelamatkan diri dari ancaman bahaya gunung api yang meletus. Oleh karena itu, tampaknya cukup wajar dan tidak berlebihan jika Museum Gunung Merapi juga dijadikan sebagai wahana pendidikan mitigasi untuk menekan jumlah korban jiwa.


Di salah satu ruangan Museum Gunung Merapi terdapat koleksi alat-alat yang biasa digunakan dalam proses pemantauan aktivitas gunung berapi. Selain itu, juga ada berbagai macam batuan yang dibawa oleh letusan Merapi, salah satunya adalah batu bom (vulcanic bomb) Gunung Merapi yang berbentuk batuan pijar berdiameter 65 mm lebih. Koleksi lainnya adalah peralatan masak warga yang rusak terkena erupsi, serta kerangka sepeda motor milik warga yang tewas di bungker Kaliadem pada 14 Juni 2006.

Sebagai sebuah museum yang dirancang untuk menjadi pusat informasi, penelitian, pendidikan dan wisata tentang kegunungapian di seluruh dunia secara umum dan Gunung Merapi secara khusus, Museum Gunung Merapi layak untuk dikunjungi. Para pelajar dari berbagai jenjang pendidikan sangat disarankan untuk mengunjungi museum ini, dikarenakan akan ada begitu banyak informasi yang disajikan oleh Museum Gunung Merapi lengkap dengan visualisasinya. Sehingga, proses pembelajaran tentang kegunungapian menjadi sesuatu yang menarik dan tidak membosankan.

C. Lokasi

Museum Gunung Api Merapi terletak di kawasan lereng selatan Gunung Merapi, tepatnya berada di Jalan Boyong, Dusun Banteng, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

D. Akses

Akses menuju Museum Gunung Api Merapi terbilang cukup mudah, hal ini dikarenakan Museum Gunung Merapi terletak satu jalur dengan kawasan wisata Kaliurang. Dari arah Yogyakarta, silakan Anda menyusuri Jalan Kaliurang. Kurang lebih 20 km perjalanan, Anda berbelok ke arah kiri, dan ikuti jalan menuju obyek wisata Kaliurang dari pintu masuk sebelah barat (Jalan Boyong). Tak berapa lama Anda akan menemukan gerbang masuk kawasan wisata Kaliurang. Silakan Anda belok kanan, Museum Gunung Merapi terletak persis di ujung jalan tersebut.

Wisatawan yang ingin berkunjung ke Museum Gunung Merapi disarankan membawa kendaran pribadi baik mobil maupun motor. Hal ini dikarenakan tidak adanya angkutan umum yang melintasi museum ini, sehingga Anda harus berjalan kaki sekitar 2 km dari Jalan Kaliurang. Namun, jika Anda tetap ingin menggunakan angkutan umum, Anda dapat naik mikromini jurusan Jogja-Kaliurang. Setelah sampai di depan gedung Oasis Crisis Center, silakan Anda turun kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Boyong.

E. Tiket Masuk

Wisatawan yang ingin memasuki Museum Gunung Api Merapi diwajibkan membayar tiket masuk sebesar Rp 3.000,00. Selain itu, wisatawan yang membawa sepeda motor akan dikenai biaya parkir sebesar Rp 1.500,00, mobil Rp 2.000,00, sedangkan bus Rp 10.000,00 (Januari 2010). Museum ini buka pada hari Selasa hingga Minggu mulai pukul 09.00 – 15.30. Khusus untuk hari Senin museum libur.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Sebagai obyek wisata yang masih baru di Kabupaten Sleman, fasilitas yang dimiliki oleh Museum Gunung Merapi belum begitu lengkap namun sudah cukup memadai bagi wisatawan. Di Museum Gunung Merapi terdapat rest room, toilet, areal parkir, dan pelataran yang sangat luas. Saat ini pihak pengelola Museum Gunung Merapi sedang menambah berbagai fasilitas untuk pengunjung seperti gazebo, kafetaria, serta gedung teater. Kawasan ini juga sedang dalam proses pengembangan menuju kawasan wisata terpadu alternatif.

Meskipun belum ada kafetaria di dalam museum, Anda tidak perlu khawatir, karena sekitar 100 meter dari museum terdapat warung makan yang dikelola oleh penduduk lokal. Jangan lupa belilah jadah tempe sebagai oleh-oleh khas Kaliurang. Wisatawan yang ingin menikmati dinginnya malam di lereng Merapi dapat menginap di hotel maupun losmen yang ada di kawasan tersebut. Jika Anda memiliki waktu yang cukup banyak, silakan Anda melanjutkan perjalanan ke Kaliurang, Museum Ulen Sentalu, Tlaga Putri, Lava Tour Kaliadem, ataupun agrowisata di sekitar Turi dan Pakem.

Smber : www.tourismsleman.com

Kamis, 03 Februari 2011

SITUS KERATON RATU BOKO


Terletak 3 km arah selatan Candi Prambanan. Komplek bangunan ini terdiri dari gapura, candi pembakaran, paseban, pendopo dan komplek pemandian keputren dan sistem drainasenya.

Dilengkapi fasilitas camping ground, musholla, toilet, dan kiara pandang. Tiket masuk untuk wisatawan nusantara sebesar Wisatawan Nusantara Dewasa Rp. 8.000,- (hari biasa) Rp. 10.000 (hari libur) Rp. 11.000 (hari libur lebaran, natal dan tahun baru), Anak-anak Rp. 4.000,- (hari biasa) Rp. 5.000 (hari libur) Rp. 6.000 (hari libur lebaran, natal dan tahun baru)dan US$ 10 untuk wisatawan mancanegara. Pengelolaan situs ditangani oleh Unit Taman Wisata Ratu Boko.

Sumber : tourismsleman.com

Home Wisata Sleman

Ngancar Tridadi Sleman

CANDI SAMBISARI DAN CANDI BANYUNIBO

Candi Banyunibo
Candi Banyunibo yang menyerupai tetesan embun ini merupakan candi Budha yang dibangun pada abad IX dan terletak tidak jauh dari Situs Ratu Boko. Buka setiap hari pukul 08.00-17.00 WIB dengan harga tiket Dewasa Rp. 2.000,-/orang dan Ank-anak Rp. 1.000,- per orang.

Candi Sambi Sari
Candi ini memiliki keunikan tersendiri, posisinya yang berada 6,5 m di bawah permukaan tanah. Dibangun pada abad X dan terletak 12 km. arah timur kota Yogyakarta. Candi ini ditemukan oleh seorang petani pada tahun 1966. Buka pukul 08.00 - 17.00 WIB dengan tiket masuk Rp. 2.000,-/orang dan Ank-anak Rp. 1.000,- per orang.

Sumber : tourismsleman.com

CANDI BARONG DAN CANDI SARI

Candi Sari

Candi Budha ini merupakan bangunan bertingkat. Dulu candi ini merupakan Vihara Budha yang digunakan sebagai tempat belajar kepada para Bikshu. Letaknya dekat dengan candi Kalasan. Tiket masuk Rp. 2.000,-/orang dan Ank-anak Rp. 1.000,- per orang buka setiap hari.


Candi Barong

Candi Hindu ini berada tidak jauh dari Situs Ratu Boko pada ketinggian 27 m dari permukaan laut, di dusun Candisari, Bokoharjo, Prambanan. Disebut candi Barong karena pada relung tubuh candi terdapat hiasan "kala" yang menyerupai Barong. Buka setiap hari pukul 08.00-17.00 WIB. Tiket masuk sebesar Rp. 500,-.

Sumber : tourismsleman.com

CANDI KALASAN


Banyak orang selalu menyebut Borobudur saat membicarakan bangunan candi Budha. Padahal, ada banyak candi bercorak Budha yang terdapat di Yogyakarta, salah satu yang berkaitan erat dengan Borobudur adalah Candi Tara. Candi yang terletak di Kalibening, Kalasan ini dibangun oleh konseptor yang sama dengan Borobudur, yaitu Rakai Panangkaran. Karena letaknya di daerah Kalasan, maka candi ini lebih dikenal dengan nama Candi Kalasan

Selesai dibangun pada tahun 778 M, Candi Tara menjadi candi Budha tertua di Yogyakarta. Candi yang berdiri tak jauh dari Jalan Yogya Solo ini dibangun sebagai penghargaan atas perkawinan Pancapana dari Dinasti Sanjaya dengan Dyah Pramudya Wardhani dari Dinasti Syailendra. Selain sebagai hadiah perkawinan, candi itu juga merupakan tanggapan usulan para raja untuk membangun satu lagi bangunan suci bagi Dewi Tara dan biara bagi para pendeta.

Tubuh candi memiliki penampilan yang menjorok keluar di sisi tengahnya. Di bagian permukaan luar tubuh candi terdapat relung yang dihiasi sosok dewa yang memegang bunga teratai dengan posisi berdiri. Bagian tenggaranya memiliki sebuah bilik yang di dalamnya terdapat singgasana bersandaran yang dihiasi motif singa yang berdiri di atas punggung gajah. Bilik tersebut dapat dimasuki dari bilik penampil yang terdapat di sisi timur.

Bagian atap candi berbentuk segi delapan dan terdiri dari dua tingkat. Sebuah arca yang melukiskan manusia Budha terdapat pada tingkat pertama sementara pada tingkat kedua terdapat arca yang melukiskan Yani Budha. Bagian puncak candi berupa bujur sangkar yang melambangkan Kemuncak Semeru dengan hiasan stupa-stupa. Pada bagian perbatasan tubuh candi dengan atap candi terdapat hiasan bunga makhluk khayangan berbadan kerdil disebut Gana.

Bila anda mencermati detail candi, anda juga akan menjumpai relief-relief cantik pada permukaannya. Misalnya relief pohon dewata dan awan beserta penghuni khayangan yang tengah memainkan bunyi-bunyian. Para penghuni khayangan itu membawa rebab, kerang dan camara. Ada pula gambaran kuncup bunga, dedaunan dan sulur-suluran. Relief di Candi Tara memiliki kekhasan karena dilapisi dengan semen kuno yang disebut Brajalepha, terbuat dari getah pohon tertentu.

Di sekeliling candi terdapat stupa-stupa dengan tinggi sekitar 4,6 m berjumlah 52 buah. Meski stupa-stupa itu tak lagi utuh karena bagiannya sudah tak mungkin dirangkai utuh, anda masih bisa menikmatinya. Mengunjungi candi yang sejarah berdirinya diketahui berdasarkan Prasasti Candi yang berhuruf Panagari ini, anda akan semakin mengakui kehebatan Rakai Panangkaran yang bahkan sempat membangun bangunan suci di Thailand.

Candi ini juga menjadi bukti bahwa pada masa lalu telah ada upaya untuk merukunkan pemeluk agama satu dengan yang lain. Terbukti, Panangkaran yang beragama Hindu membangun Candi Tara atas usulan para pendeta Budha dan dipersembahkan bagi Pancapana yang juga beragama Budha. Candi ini pulalah yang menjadi salah satu bangunan suci yang menginspirasi Atisha, seorang Budhis asal India yang pernah mengunjungi Borobudur dan menyebarkan Budha ke Tibet.

Banyak orang selalu menyebut Borobudur saat membicarakan bangunan candi Budha. Padahal, ada banyak candi bercorak Budha yang terdapat di Yogyakarta, salah satu yang berkaitan erat dengan Borobudur adalah Candi Tara. Candi yang terletak di Kalibening, Kalasan ini dibangun oleh konseptor yang sama dengan Borobudur, yaitu Rakai Panangkaran. Karena letaknya di daerah Kalasan, maka candi ini lebih dikenal dengan nama Candi Kalasan

Selesai dibangun pada tahun 778 M, Candi Tara menjadi candi Budha tertua di Yogyakarta. Candi yang berdiri tak jauh dari Jalan Yogya Solo ini dibangun sebagai penghargaan atas perkawinan Pancapana dari Dinasti Sanjaya dengan Dyah Pramudya Wardhani dari Dinasti Syailendra. Selain sebagai hadiah perkawinan, candi itu juga merupakan tanggapan usulan para raja untuk membangun satu lagi bangunan suci bagi Dewi Tara dan biara bagi para pendeta.

Tubuh candi memiliki penampilan yang menjorok keluar di sisi tengahnya. Di bagian permukaan luar tubuh candi terdapat relung yang dihiasi sosok dewa yang memegang bunga teratai dengan posisi berdiri. Bagian tenggaranya memiliki sebuah bilik yang di dalamnya terdapat singgasana bersandaran yang dihiasi motif singa yang berdiri di atas punggung gajah. Bilik tersebut dapat dimasuki dari bilik penampil yang terdapat di sisi timur.

Bagian atap candi berbentuk segi delapan dan terdiri dari dua tingkat. Sebuah arca yang melukiskan manusia Budha terdapat pada tingkat pertama sementara pada tingkat kedua terdapat arca yang melukiskan Yani Budha. Bagian puncak candi berupa bujur sangkar yang melambangkan Kemuncak Semeru dengan hiasan stupa-stupa. Pada bagian perbatasan tubuh candi dengan atap candi terdapat hiasan bunga makhluk khayangan berbadan kerdil disebut Gana.

Bila anda mencermati detail candi, anda juga akan menjumpai relief-relief cantik pada permukaannya. Misalnya relief pohon dewata dan awan beserta penghuni khayangan yang tengah memainkan bunyi-bunyian. Para penghuni khayangan itu membawa rebab, kerang dan camara. Ada pula gambaran kuncup bunga, dedaunan dan sulur-suluran. Relief di Candi Tara memiliki kekhasan karena dilapisi dengan semen kuno yang disebut Brajalepha, terbuat dari getah pohon tertentu.

Di sekeliling candi terdapat stupa-stupa dengan tinggi sekitar 4,6 m berjumlah 52 buah. Meski stupa-stupa itu tak lagi utuh karena bagiannya sudah tak mungkin dirangkai utuh, anda masih bisa menikmatinya. Mengunjungi candi yang sejarah berdirinya diketahui berdasarkan Prasasti Candi yang berhuruf Panagari ini, anda akan semakin mengakui kehebatan Rakai Panangkaran yang bahkan sempat membangun bangunan suci di Thailand.

Candi ini juga menjadi bukti bahwa pada masa lalu telah ada upaya untuk merukunkan pemeluk agama satu dengan yang lain. Terbukti, Panangkaran yang beragama Hindu membangun Candi Tara atas usulan para pendeta Budha dan dipersembahkan bagi Pancapana yang juga beragama Budha. Candi ini pulalah yang menjadi salah satu bangunan suci yang menginspirasi Atisha, seorang Budhis asal India yang pernah mengunjungi Borobudur dan menyebarkan Budha ke Tibet.

Sumber : tourismsleman.com

Home Wisata Sleman

Ngancar Tridadi Sleman